Sabtu, 11 Mei 2013

Sejarah Boedi Oetomo

Sejarah Boedi Oetomo


1. Latar belakang

Setelah terpengaruh oleh faham-faham yang berkembang di Asia-Afrika, tokoh-tokoh Indonesia mulai mengembangkan faham kebangsaan. Gerakan kebangsaan yang timbul di Indonesia, terutama didasari oleh sebuah paham, yaitu faham nasionalisme.
Sejak bangsa Eropa datang ke wilayah Indonesia, bangsa Indonesia telah menyadari bahwa akibat dari datangannya bangsa asing tersebut menyebabkan tidak pernah habisnya perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Hal ini terjadi karena perlawanan tersebut hanyalah sebatas di daerah tertentu saja. Tentu saja ini memudahakan bangsa asing untuk menguasai setiap daerah karena kurang adanya rasa persatuan dan kesatuan untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa lain.
Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia telah tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-tiba. Nasionalisme yang bersifat menyeluruh dan meliputi semua wilayah Nusantara baru muncul sekitar awal abad ke-20. Lahirnya nasionalisme bangsa Indonesia didorong oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
  • Faktor internal yaitu misalnya pada masa lampau, Indonesia sempat merasakan kejayaan pada masa kebesaran kerajaan Majapahit dan Sriwijawa. Adanya penderitaan rakyat akibat penjajahan, hal tersebut memotivasi bangsa Indonesia agar bangkit dari keterpurukan. Dengan bermunculannya golongan cendekiawan, golongan ini bermunculan dimana-mana sebagai akibat dari perkembangan dan peningkatan pendidikan. Kaum cendekiawan inilah yang sebagian besar sebagai penggagas munculnya organisasi-organisasi pergerakan nasional Indonesia.
  • Faktor eksternal yaitu karena adanya keberhasilan negara-negara dari luar negeri untuk mencapai nasionalisme. Adanya kemenangan Jepang atas Rusia, Pergerakan Kebangsaan di India, Gerakan Kebangsaan Filipina, Gerakan Nasionalis Rakyat Cina, Pergerakan Turki Muda, Pergerakan Nasionalisme Mesir, dll merupakan segelintir contoh yang memberi dorongan dan energi terhadap bangsa Indonesia sehingga lahirlah pergerakan nasional di Indonesia.


2 .Identifikasi masalah

Mengingat adanya bangsa Eropa yang datang ke Indonesia, hal tersebut banyak menimbulkan perlawanan-perlawanan yang tidak akan ada hentinya di setiap daerah. Untuk itu, kaum cendekiawan dengan pemikiran mereka mendirikan organisasi-organisasi pergerakan nasional Indonesia sehingga hal tersebut merupakan awal munculnya gerakan nasionalisme di Indonesia.


Boedi Oetomo

A. Sejarah Budi Utomo
Untuk membangkitkan jiwa kebangsaan dan rasa harga diri yang kuat terhadap seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kaum terpelajar yang dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan (pemuda) Sutomo mulai menggerakkan para pemuda dan pelajar Indonesia untuk membentuk organisasi yang akan bergerak dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Pada tahun 1906, kaum terpelajar tersebut mulai terjun ke daerah-daerah untuk mencari dukungan moral dan material dari kaum bangsawan, para pegawai, dan dermawan agar bersedia secara aktif membantu usaha dalam memperbaiki nasib bangsanya. Dalam ceramahnya di depan para pelajar STOVIA, dr. Wahidin Sudirohusudo melontarkan keinginannya untuk mendirikan badan pendidikan yang disebut studiefonds. Ajakan tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh pelajar.
Salah seorang pelajar STOVIA yang bernama Sutomo segera menghubungi kawan-kawannya untuk mendiskusikan mengenai nasib bangsanya. Pada hari Minggu, tanggal 20 Mei 1908 Sutomo dan kawan-kawannya di ruang kelas Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia atau Jakarta mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo (Budi Luhur).
Para pelajar yang aktif dalam pembentukan Budi Utomo tersebut adalah M. Suradji, Muhammad Saleh, Mas Suwarno, Muhammad Sulaiman, Gunawan, dan Gumbreg. Pada akhir pidatonya, Sutomo mengatakan, “berhasil dan tidaknya usaha ini bergantung kepada kesungguhan hati kita, bergantung kepada kesanggupan kita bekerja. Saya yakin bahwa nasib Tanah Air di masa depan terletak di tangan kita.” Ucapan itu disambut dengan tepuk tangan yang amat meriah.
Budi Utomo setelah terbentuk, para pengurus dan anggotanya segera mempropagandakan mengenai maksud dan tujuan pembentukan organisasi tersebut kepada semua masyarakat, terutama kelompok pelajar, pegawai, kaum priayi, dan pedagang kecil. Propaganda itu ternyata mendapat sambutan hangat. Berita tentang pembentukan Budi Utomo akhirnya tersiar juga lewat surat kabar sehingga diketahui oleh pelajar-pelajar di berbagai kota. Akhirnya, para pelajar di kota-kota, seperti Yogyakarta, Magelang, dan Probolinggo ikut mendirikan cabang-cabang Budi Utomo. Nama Sutomo sebagai pendiri dan ketua umum Budi Utomo makin populer sekaligus mengundang risiko besar.
Beberapa staf pengajar dan pemerintah Belanda menuduh Sutomo dan kawan-kawannya sebagai pemberontak. Sutomo diancam akan dipecat dari sekolahnya. Akan tetapi, kawan-kawannya mempunyai solidaritas tinggi. Jika Sutomo dikeluarkan, mereka akan ikut keluar juga. Dalam persidangan di sekolah, Sutomo masih dipertahankan oleh pemimpin umum STOVIA, Dr. H. E. Roll sehingga ia dan kawan-kawannya tidak jadi dikeluarkan dari sekolah. Jelaslah bahwa setiap perjuangan pasti mendapat tantangan, rintangan, bahkan ancaman, tetapi mereka tetap tegar.
Budi Utomo berkembang makin besar sehingga perlu menyelenggarakan kongres. Untuk keperluan itu, mereka mempersiapkan segala sesuatunya atas usaha sendiri. Dr. Wahidin berkampanye keliling daerah untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dari semua pihak. Kongres Budi Utomo yang pertama berhasil diselenggarakan pada tanggal 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres dihasilkan beberapa keputusan penting, seperti:
  1. Merumuskan tujuan utama Budi Utomo, yaitu kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, ilmu pengetahuan dan seni budaya bangsa Indonesia.
  2. Kedudukan pusat perkumpulan berada di Yogyakarta.
  3. Menyusun kepengurusan dengan Ketua R.T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar (Jawa Tengah).
  4. Kegiatan Budi Utomo terutama ditujukan pada bidang pendidikan dan kebudayaan.
  5. Wilayah gerakannya difokuskan di Jawa dan Madura.
  6. BU tidak ikut mengadakan kegiatan politik.
Penyerahan pimpinan pusat organisasi oleh Sutomo kepada kaum tua mempunyai tujuan strategis berikut:
  1. Menghargai kaum tua yang lebih berpengalaman.
  2. Mengajak kaum tua untuk ikut memikirkan dan memajukan pendidikan rakyat lewat Budi Utomo.
  3. Sutomo dan kawan-kawannya masih harus menyelesaikan pendidikannya lebih dahulu di STOVIA, Jakarta.
Pada tahun awal berkembangnya Budi Utomo dapat menjadi tempat penyaluran keinginan rakyat yang ingin maju dan tempat mengabdi tokoh-tokoh terkemuka bangsanya. tokoh-tokoh yang pernah menjabat sebagai ketua Budi Utomo antara lain: R.T Tirtokusumo (1908-1911), Pangeran Aryo Noto Dirodjo dari Istana Paku Alam (1911-1914), R.Ng. Wedyodipura VII (1914-1915), dan R.M. Ario Surjo Suparto (1915). Oleh karena pemimpin Budi Utomo umumnya berasal dari kaum bangsawan, banyaklah dana yang disumbangkan untuk kemajuan pengajaran.
Dengan demikian, lahirlah badan bantuan pendidikan atau studiefonds yang diberi nama Darma Wara. Hal inilah yang dicita-citakan oleh dr. Wahidin.
Sejak tahun 1908 hingga tahun 1915, Budi Utomo hanya bergerak di bidang sosial dan budaya terutama pada bagian pengajaran. Namun, setelah tahun 1925 itu Budi Utomo ikut terjun ke dunia politik. Perubahan haluan ini terjadi karena adanya pengaruh dari organisasi pergerakan lain yang bercorak politik, seperti Indische Partij dan Sarekat Islam.
Tujuan Budi Utomo berpolitik adalah untuk mendapat bagian dalam pemerintahan yang akan dipegang oleh golongan pelajar pribumi. Kegiatan Budi Utomo dalam bidang politik, antara lain sebagai berikut.
  • Budi Utomo ikut duduk dalam komite Indie Weerbaar yang dikirim ke Negeri Belanda untuk membahas pertahanan Hindia Belanda pada tahun 1916–1917.
  • Budi Utomo juga mengusulkan pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat) bagi penduduk pribumi, ketika wakilnya dalam Comite Indie Weerbaar (Panitia Ketahanan Hindia Belanda) berangkat ke Negeri Belanda.
  • Budi Utomo berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan anggota Volksraad.
  • Budi Utomo berpartisipasi aktif sebagai anggota Volksraad, bahkan menempati dua dalam hal jumlah anggota di antara anggota pribumi.
  • Budi Utomo mencanangkan program politiknya berupa keinginan mewujudkan pemerintahan parlementer yang berasas kebangsaan.
  • Pada tahun 1927, Budi Utomo memprakarsai dan bergabung dalam Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) .
  • Dokter Sutomo banyak mendirikan studieclub yang dalam praktiknya juga dapat membahas soal-soal politik. Pada tahun 1935 Indonesisch Studie Club di Surabaya bergabung dengan Sarekat Madura menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), kemudian PBI digabung dengan Budi Utomo menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra).
Budi Utomo dalam bidang politik meskipun kalah progresif jika dibandingkan dengan Sarekat Islam, Indische Partij, dan PNI, tetaplah sebagai pembuka jalan dan pelopor Pergerakan Nasional Indonesia. Karena peranan dan jasanya yang besar itulah, tanggal kelahiran Budi Utomo, 20 Mei, ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia.

B. Kesimpulan
Dari organisasi pergerakan nasional diIndonesia yang telah dibahas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dengan munculnya organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo merupakan sebuah langkah yang sangat baik bagi bangsa Indonesia karena dapat memajukan bangsa dengan pengajaran-pengajaran yang telah dilakukan oleh organisasi budi Utomo. Tentu saja hal tersebut sangat menguntungkan bangsa Indonesia agar terhindar dari kebodohan.

C. Saran
Berdasarkan pembahasan, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
Betapa perlunya kita belajar untuk memajukan negara Indonesia.
Tidak ada salahnya jika kita mencontoh apa yang dilakukan tokoh-tokoh dibalik organisasi Budi Utomo untuk memajukan negara.




Daftar Pustaka
Badrika, I Wayan. 2006. SEJARAH untuk SMA Kelas XI 2 PROGRAM ILMU ALAM. Jakarta: PT. Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar